KARYA TULIS ILMIAH- “Hubungan Pengetahuan dengan Sikap Siswa-Siswi Kelas XI Tentang Perilaku Seksual Remaja di Sekolah”.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Remaja SMA/MA merupakan remaja dalam masa yang penuh
gejolak dalam mencari identitas diri dan perkembangan seksual mereka. Menurut
para ahli psikologi berkebangsaan Belanda yaitu L.C.T Bigot, Ph. Kohnstam dan
B.G Palland mengkategorikan kelompok usia remaja SMA/MA termasuk dalam kelompuk
masa pubertas yaitu usia 15–18 tahun. Hurlock berpendapat bahwa masa puber
merupakan fase dalam rentang perkembangan anak–anak berubah dari makhluk
aseksual menjadi mahluk seksual. Hurlock (2001) juga menambahkan bahwa pada
masa remaja minatnya pada seks meningkat. Mereka mulai tertarik pada jenis
kelamin lain, mereka mulai mengenal apa yang dinamakan cinta, saling memberi
dan menerima kasih sayang dari orang lain.
Sampai saat ini masalah seksualitas selalu menjadi
topik yang menarik untuk dibicarakan. Hal ini dimungkinkan karena permasalahan
seksual telah menjadi suatu hal yang sangat melekat pada diri manusia.
Seksualitas tidak bisa dihindari oleh mahluk hidup, apalagi berkaitan erat
dengan kehidupan remaja pada saat sekarang. Masa remaja dikenal dengan masa
storm and stress dimana terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan
pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis yang bervariasi. Jika
perkembangan psikologis berjalan cukup sehat dan lancar, akhirnya mereka menuju
kemasakan emosional. Risiko psikologis paling utama dari masa remaja adalah
berkisar dari kegagalan melaksanakan peralihan ke arah kematangan yang
merupakan perkembangan terpenting dari masa remaja.
Perilaku seksual pada remaja adalah perilaku karena
adanya dorongan seksual yang dilakukan oleh lawan jenis dan belum resmi terikat
dalam perkawinan. Dampak yang muncul dari perilaku seksual pada remaja
sangatlah besar. Perilaku seksual remaja juga dapat menimbulkan beberapa akibat
bagi pelakunya seperti mendekatkan mereka kepada risiko terinfeksi berbagai
macam penyakit menular seksual termasuk di dalamnya HIV dan AIDS. Fenomena
tersebut tentu bukan sepenuhnya kesalahan remaja. Orang tua juga harus ikut
bertanggung jawab. Para remaja tersebut kurang mendapatkan pendidikan seksual
dari orang tuanya. Masih banyak orangtua yang beranggapan bahwa membicarakan
seks merupakan sesuatu yang tabu. Akibatnya remaja mencari informasi tentang
seks dari teman dan lingkungan sekitarnya.
Data SDKI tahun 2007 dan 2012, perilaku seksual
pranikah remaja perempuan yang telah memiliki pacar di daerah urban dan rural
diperoleh perbandingan sebagai berikut: pegangan tangan sebanyak 73,3% dan
61,9%, ciuman 34,4% dan 23,0%, petting 10,2% dan 7,7% pada tahun 2007.
Sedangkan pada tahun 2012, angka tersebut mengalami fluktuasi diantaranya pegangan
tangan 76,3% dan 64,3%, ciuman 33,3% dan 23,1%, petting 6,7% dan 5,3%. Remaja
laki-laki pernah melakukan kencan dengan pegangan tangan sebanyak 73,6% dan
64,4% ciuman 46,3% dan 34,4%, petting 28,5% dan 24,5%. Sedangkan pada tahun 2012,
angka tersebut mengalami fluktuasi diantaranya pegangan tangan 84,2% dan 73,8%,
ciuman 51,8% dan 43,3%, petting 32,2% dan 26,0%.
Penelitian tentang faktor yang mempengaruhi perilaku seksual
remaja menjadi bahasan yang menarik karena terlihat secara statistik bahwa
perilaku seksual pranikah remaja dalam tahap yang mengkhawatirkan. Seperti
hasil penelitian dari Darmasih bahwa ada pengaruh pengetahuan (p=0,022), pemahaman
tingkat agama (p=0,002), sumber informasi (p=0,022), dan peranan keluarga (p=0,000)
terhadap perilaku seksual pada remaja SMA di Surakarta. Selaras dengan Salisa
yang melakukan penelitian secara deskriptif pada remaja di Surakarta
menyimpulkan bahwa faktor-faktor penyebab munculnya perilaku seks pranikah
berdasarkan hasil penelitian diantaranya kegagalan fungsi keluarga, pengaruh
media dan rendahnya pendidikan nilai agama.
Padahal dalam ajaran agama Islam, perilaku tersebut
dilarang sesuai dengan ayat di Al-Quran yang mengatur adanya hubungan seksual
sebelum menikah dan hukum dari itu adalah haram.“Dan janganlah kamu
mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan
suatu jalan yang buruk” (Al- Qur’an, Al-israa’ ayat 32). Remaja juga
mempunyai keinginan yang besar untuk mencoba sesuatu yang baru. Oleh karena
itu, jika remaja tersebut tidak mendapatkan pendidikan seks yang baik, maka
mereka cenderung akan mencoba pengalaman seks. Pengetahuan yang rendah disertai
dengan kuatnya pengaruh teman sebaya pada usia remaja menjadikan siswa untuk
mempunyai sikap dan perilaku seksual yang tidak sehat. Oleh karena itu,
pengetahuan berpengaruh besar terhadap perilaku seseorang.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, ada beberapa permasalahan yang akan dikaji dalam
penelitian ini, antara lain :
1.
Bagaimana hubungan antara pengetahuan dengan sikap siswa-siswi
kelas XI tentang perilaku seksual remaja di sekolah ?
2.
Bagaimana hubungan pemahaman tingkat agama dengan sikap siswa-siswi
tentang perilaku seksual remaja di sekolah
?
3.
Apa faktor-faktor yang mempengarui sikap siswa-siswi tentang
perilaku seksual remaja di sekolah ?
4.
Bagaimana dampak terjadinya
perilaku seksual remaja di sekolah ?
5.
Bagaimana solusi untuk mengurangi terjadinya perilaku seksual remaja
di sekolah ?
1.3
Tujuan Penelitian
1.
Mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan sikap siswa-siswi
kelas XI tentang perilaku seksual remaja di sekolah
2.
Mengetahi hubungan pemahaman tingkat agama dengan sikap siswa-siswi
tentang perilaku seksual remaja di sekolah.
3.
Mengetahui faktor-faktor yang mempengarui sikap siswa-siswi tentang
perilaku seksual remaja di sekolah.
4.
Mengetahui dampak terjadinya perilaku seksual remaja di sekolah.
5.
Mengetahui solusi untuk mengurangi terjadinya perilaku seksual
remaja di sekolah
1.4
Manfaat Penulisan
a.
Bagi Remaja
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan gambaran tentang hubungan pengetahuan dan pengetahuan agama dengan
perilaku seksual remaja di sekolah.
b.
Bagi Peneliti
Dapat
mengembangkan wawasan peneliti dan pengalaman berharga dalam melatih kemampuan
peneliti dalam melakukan penelitian yang berkaitan dengan hubungan pengetahuan
dengan sikap siswa-siswi kelas XI tentang perilaku seksual remaja di sekolah.
c.
Bagi Peneliti lain
Sebagai
data dasar untuk penelitian selanjutnya.
1.5
Metode Penelitian
a.
Deskriptif
Penelitian deskriptif
adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan
fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau.
Penelitian ini tidak mengadakan manipulasi atau pengubahan pada
variabel-variabel bebas, tetapi menggambarkan suatu kondisi apa adanya.
Penggambaran kondisi bisa individual atau menggunakan angka-angka.
(Sukmadinata, 2006:5). Penelitian deskriptif, tidak hanya bisa mendeskripsikan
suatu keadaan saja, tetapi bisa juga mendeskripsikan keadaan dalam
tahapan-tahapan perkembangannya, penelitian demikian disebut penelitan
perkembangan (Developmental Studies). Dalam penelitian perkembangan ini ada
yang bersifat longitudinal atau sepanjang waktu dan ada yang bersifat cross
sectional atau dalam potongan waktu.
b.
Korelasional
Penelitian korelasi adalah
suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan,
apakah ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Adanya
hubungan dan tingkat variabel yang penting, karena dengan mengetahui tingkat
hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan
penelitian. (Sukardi, 2003:166)
Penelitian korelasi
merupakan bentuk penelitian untuk memeriksa hubungan diantara dua konsep.
Secara umum ada dua jenis pernyataan yang menyatakan hubungan, yaitu: (1)
gabungan antara dua konsep, ada semacam pengaruh dari suatu konsep terhadap
konsep yang lain; (2) hubungan kausal, ada hubungan sebab akibat. Pada hubungan
kausal, penyebab diferensikan sebagai varibel bebas dan akibat direferensikan
sebagai variabel terikat. Pada penelitian korelasi tidak ada kontrol atau
manipulasi terhadap variabel.
c.
Survey
Penelitian survey digunakan
untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan
menggunakan sampel yang relatif kecil. Populasi tersebut bisa berkenaan dengan
orang, instansi, lembaga, organisasi dan unit-unit kemasyarakatan dan
lain-lain, tetapi sumber utamanya adalah orang. Desain survey tergantung pada
penggunaan jenis kuisoner. Survey memerlukan populasi yang besar jika peneliti
menginginkan hasilnya mencerminkan kondisi nyata, semakin besar sample survey
semakin memberikan hasil akurat. Penelitian survei memiliki tiga tujuan utama
yaitu menggambarkan keadaan saat itu, mengidentifikasi secara terukur keadaan
sekarang untuk membandinkan, menentukan hubungan kejadian yang spesifik.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
2.1 Remaja
2.1.1
Pengertian Remaja
Remaja
dalam ilmu psikologis juga diperkenalkan dengan istilah lain, seperti
puberteit, adolescence, dan youth. Dalam bahasa Indonesia sering pula dikaitkan
pubertas atau remaja. Remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa
kanak-kanak dan masa dewasa, berlangsung antara usia 12 sampai 21 tahun. Masa
remaja terdiri dari masa remaja awal usia 12-15 tahun, masa remaja pertengahan
usia 15-18 tahun, dan masa remaja akhir usia 18-21 tahun (Monks, et al. 2002).
Masa remaja disebut juga sebagai periode perubahan, tingkat perubahan dalam
sikap, dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan perubahan fisik (Hurlock,
2004).
2.1.2
Ciri-ciri masa
remaja
Masa remaja mempunyai ciri-ciri
tertentu yang membedaka dengan periode sebelum dan sesudahnya. Gunarsa (2001)
menyatakan ciri–ciri tertentu yaitu:
1.
Masa remaja sebagai periode yang penting.
2.
Masa remaja sebagai periode peralihan.
3.
Masa remaja sebagai periode perubahan.
4.
Masa remaja sebagai periode bermasalah.
5.
Masa remaja sebagai masa mencari identitas.
6.
Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan.
7.
Masa remaja sebagai ambang masa dewasa.
Gunarsa (2001) menyebutkan bahwa masa remaja sebagai
masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa, meliputi semua perkembangan yang
dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Semua aspek perkembangan dalam
masa remaja secara global berlangsung antara umur 12–21 tahun, dengan pembagian
usia 12-15 tahun adalah masa remaja awal, 15- 18 tahun adalah masa remaja
pertengahan, 18- 21 tahun adalah masa remaja akhi (Monks, et al. 2002).
2.1.3
Tahap perkembangan remaja
Menurut tahap perkembangan, masa remaja dibagi menjadi
tiga tahap yaitu :
a. Masa remaja awal (12-15 tahun), dengan ciri khas
antara lain:
1) Lebih dekat dengan teman sebaya
2) Ingin bebas
3) Lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan
mulai berpikir abstrak
b. Masa remaja tengah (15-18 tahun), dengan ciri khas
antara lain :
1) Mencari identitas diri
2) Timbulnya keinginan untuk kencan
3) Mempunyai rasa cinta yang mendalam
4) Mengembangkan kemampuan berpikir abstrak
5) Berkhayal tentang aktifitas seks
c. Masa remaja akhir (18-21 tahun), dengan ciri khas
antara lain :
1) Pengungkapan identitas diri
2) Lebih selektif dalam mencari teman sebaya
3) Mempunyai citra jasmani dirinya
4) Dapat mewujudkan rasa cinta
5) Mampu berpikir abstrak
Perkembangan fisik termasuk organ
seksual yaitu terjadinya kematangan serta peningkatan kadar hormon reproduksi
atau hormon seks baik pada laki-laki maupun pada perempuan yang akan
menyebabkan perubahan perilaku seksual remaja secara keseluruhan. Pada
kehidupan psikologis remaja, perkembangan organ seksual mempunyai pengaruh kuat
dalam minat remaja terhadap lawan jenis. Terjadinya peningkatan perhatian
remaja terhadap lawan jenis sangat dipengaruhi oleh faktor perubahan-perubahan
fisik selama periode pubertas (Santrock, 2003). Remaja perempuan lebih memperlihatkan
bentuk tubuh yang menarik bagi remaja laki-laki, demikian pula remaja pria
tubuhnya menjadi lebih kekar yang menarik bagi remaja perempuan (Rumini dan
Sundari, 2004).
Pada masa remaja rasa ingin tahu
terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan yang lebih
matang dengan lawan jenis. Matangnya fungsi-fungsi seksual maka timbul pula
dorongandorongan dan keinginan-keinginan untuk pemuasan seksual. Sebagian besar
dari remaja biasanya sudah mengembangkan perilaku seksualnya dengan lawan jenis
dalam bentuk pacaran atau percintaan. Bila ada kesempatan para remaja melakukan
sentuhan fisik, mengadakan pertemuan untuk bercumbu bahkan kadang-kadang remaja
tersebut mencari kesempatan untuk melakukan hubungan seksual (Pangkahila dan
Soetjiningsih, 2004).
Meskipun fungsi seksual remaja
perempuan lebih cepat matang dari pada remaja laki-laki, tetapi pada
perkembangannya remaja laki-laki lebih aktif secara seksual dari pada remaja
perempuan. Banyak ahli berpendapat hal ini dikarenakan adanya perbedaan
sosialisasi seksual antara remaja perempuan dan remaja laki-laki. Bahkan
hubungan seks sebelum menikah dianggap ”benar” apabila orang-orang yang
terlibat saling mencintai ataupun saling terikat. Mereka sering
merasionalisasikan tingkah laku seksual mereka dengan mengatakan pada diri
mereka sendiri bahwa mereka terhanyut cinta. Sejumlah peneliti menemukan bahwa remaja
perempuan, lebih daripada remaja laki-laki, mengatakan bahwa alasan utama
mereka aktif secara seksual adalah karena jatuh cinta (Santrock, 2003).
2.2 Perilaku
2.2.1 Pengertian
perilaku
Perilaku manusia merupakan
hasil segala macam pengalaman sertainteraksi manusia yang terwujud dalam bentuk
pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku merupakan suatu tindakan yang
mempunyai frekuensi, lama, dan tujuan
khusus, baik yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar (Green, 2000). Seorang
ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi
seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Perilaku manusia dari segi biologis
adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai
bentangan yang sangat luas seperti berjalan, berbicara, menangis, bekerja dan
sebagainya. Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus Skinner membedakan
perilaku menjadi dua:
1.
Perilaku tertutup (Covert Behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk
terselubung atau tertutup. Respon terhadap stimulus ini masih terbatas pada
perhatian, persepsi, pengetahuan atau kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang
yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh
orang lain.
2.
Perilaku terbuka (Overt Behavior)
Repon seseorng terhadap stimulus dalam bentuk tindakan
nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan
atau praktik yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat orang lain. Skinner
dalam Notoatmodjo (2001) mengemukakan bahwa perilaku adalah merupakan hasil
hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan atau respon.
2.3 Perilaku
Seksual Pada Remaja
Menurut Sarwono (2003),
perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual
baik yang dilakukan sendiri, dengan lawan jenis maupun sesama jenis tanpa
adanya ikatan pernikahan menurut agama. Menurut Stuart dan Sundeen (1999),
perilaku seksual yang sehat dan adaptif dilakukan ditempat pribadi dalam ikatan
yang sah menurut hukum. Sedangkan perilaku seksual pranikah merupakan perilaku
seksual yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum
maupun menurut agama dan kepercayaan masing-masing (Mu’tadin, 2002). Menurut
Irawati (2002) remaja melakukan berbagai macam perilaku seksual beresiko yang
terdiri atas tahapan-tahapan tertentu yaitu dimulai dari berpegangan tangan,
cium kering, cium basah, berpelukan, memegang atau meraba bagian sensitif,
petting, oral sex, dan bersenggama (sexual intercourse). Perilaku seksual
pranikah pada remaja ini pada akhirnya dapat mengakibatkan berbagai dampak yang
merugikan remaja itu sendiri.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1
Hasil Penelitian
|
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
|
1. Pengetahuan
tentang perilaku seksual
a. Baik
b. Kurang
Jumlah
|
4
30
34
|
11,76
88,24
100
|
|
2. Pemahaman
agama
a. Baik
b. Kurang
Jumlah
|
26
8
34
|
76,47
23,53
100
|
Hasil
penelitian tentang pengetahuan siswa tentang perilaku seksual menunjukkan bahwa
kemampuan siswa dalam memahami dan mengetahui tentang perilaku seksual remaja,
contoh-contoh perilaku seksual remaja di sekolah, faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya perilaku seksual remaja di sekolah, serta dampak
perilaku seksual remaja di sekolah dalam kategori baik dengan persentase yaitu
sebanyak 4 siswa (11,76%). Sedangkan
dalam kategori kurang baik atau sedang dengan presentase yaitu sebanyak 30
siswa (88,24%). Pemahaman agama menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam
memahami dan mengetahui tentang agama seperti melakukan perilaku seksual remaja
di sekolah menurut agama dalam kategori baik dengan presentase terbesar yaitu
sebanyak 26 siswa (76,47%). Sedangkan dalam kategori kurang baik dengan
persentase yaitu sebanyak 8 siswa (23,53%).
3.2
Hubungan antara Pengetahuan dengan Perilaku Seksual Remaja di
Sekolah
Hubungan antara pengetahuan dengan perilaku seksual
pada remaja di sekolah menunjukkan bahwa remaja yang pengetahuannya baik dengan
sikap yang baik sebanyak 3 siswa (75%)). Sedangkan remaja yang pengetahuannya
baik dengan sikap yang kurang baik sebanyak 1 siswa (25%) . Pengetahuan yang
kurang dengan sikap yang baik 17 siswa (56,67%), sedangkan remaja yang pengetahuannya
kurang dengan sikap yang kurang baik yaitu sebanyak 13 siswa (43,33%).
Pengetahuan berhubungan dengan perilaku seks pranikah
remaja (pvalue = 0,022 < 0,05). Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan
merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan
terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan yang baik didukung oleh tingkat
pengetahuan orang tua yang baik dalam memberikan informasi tentang seks
pranikah (Hurlock, 2004). Menurut Syafrudin (2008), pengetahuan yang setengah-setengah
justru lebih berbahaya dari pada tidak tahu sama sekali. Pembentukan
pengetahuan sendiri dipengaruhi oleh faktor internal yaitu cara individu dalam
menanggapi pengetahuan tersebut dan eksternal yang merupakan stimulus untuk
mengubah pengetahuan tersebut menjadi lebih baik lagi. Menurut Prayitno (2008),
pengetahuan yang baik adalah responden memahami dan mengerti tentang seks
pranikah.
3.3
Hubungan antara Pemahaman Agama dengan Perilaku Seksual Remaja di
Sekolah Hubungan antara pemahaman agama dengan perilaku seksual
pada remaja di sekolah menunjukkan bahwa remaja yang memiliki pemahaman agama
baik dengan sikap yang baik sebanyak 16 siswa (61,54%). Sedangkan remaja yang
pengetahuannya baik dengan sikap yang kurang baik sebanyak 10 siswa (38,46%) .
Pemahaman agama yang kurang dengan sikap yang baik sebanyak 6 siswa (75%),
sedangkan remaja yang pengetahuannya kurang dengan sikap yang kurang baik yaitu
sebanyak 2 siswa (25%).
Pemahaman tingkat agama berhubungan dengan perilaku
seks pranikah remaja, (pvalue = 0,002 < 0,05). Berdasarkan hasil penelitian Kresnawati
(2007), ada hubungan positif antara kecerdasan spiritual dengan kemampuan
pemecahan masalah pada remaja. Hasil analisis deskriptif diperoleh bahwa
pemahaman tingkat agama menunjukkan bahwa kemampuan remaja dalam memahami dan
mengetahui tentang agama seperti pacaran menurut agama, melakukan seks pranikah
menurut agama, dan dampak perilaku seks pranikah menurut agama dalam kategori baik
sebanyak 76 orang (66,7%). Sedangkan kategori tidak baik sebanyak 38 orang
(33,3%). Pemahaman tingkat agama yang baik pada remaja SMA di Surakarta
didukung oleh pendidikan agama yang cukup dari keluarga, sekolah, dan
lingkungan masyarakat, dimana pendidikan agama selalu diberikan di sekolah
sejak SD yang dimasukkan ke dalam pelajaran kurikulum agama. Pemahaman agama
yang baik akan menumbuhkan perilaku yang baik.
Remaja memerlukan kemampuan pemecahan masalah yang baik, sehingga
remaja mampu menyelesaikan masalah mereka dengan efektif. Orang tua perlu
memberikan bekal materi, intelektual yang berupa pendidikan formal, serta bekal
spiritual yang berupa pendidikan agama bagi remaja. Pemahaman tingkat agama
yang baik menghasilkan tauhid dan kepercayaan terhadap remaja untuk menghindari
perilaku yang menyimpang. Berdasarkan hasil penelitian Adawiyah (2007), ada
perbedaan yang sangat signifikan antara perilaku dengan hubungan seksual
pranikah antara remaja yang religiusitasnya tinggi dengan remaja yang
religiusitasnya rendah. Remaja yang religiusitasnya tinggi menunjukkan perilaku
terhadap hubungan seksual pranikah rendah (menolak), sedangkan remaja yang religiusitasnya
rendah menunjukkan perilaku terhadap hubungan seksual pranikah tinggi
(menerima).
3.4
Faktor-Faktor yang Mempengarui Sikap Siswa-Siswi tentang Perilaku
Seksual Remaja Di Sekolah
Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Suryoputro (2003-2004) tentang faktor-faktor
yang mempengaruhi perilaku seksual remaja di Jawa Tengah adalah :
1.
Faktor internal (pengetahuan, aspek-aspek kesehatanreproduksi,
sikap terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi, perilaku, kerentanan
yang dirasakan terhadap resiko, kesehatan reproduksi, gaya hidup, pengendalian
diri, aktifitas sosial, rasa percaya diri, usia, agama, dan status perkawinan),
2.
Faktor eksternal (kontak
dengan sumber-sumber informasi, keluarga, sosial-budaya, nilai dan norma
sebagai pendukung sosial untuk perilaku tertentu), (Suryoputro, et al.
2006).
Dari
hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman agama berpengaruh terhadap
perilaku seks pranikah remaja. Seringkali remaja merasa bahwa orang tuanya
menolak membicarakan masalah seks pranikah sehingga mereka kemudian mencari
alternatif sumber informasi lain seperti teman atau media massa (Syafrudin,
2008). Beberapa kajian menunjukkan bahwa remaja sangat membutuhkan informasi
mengenai persoalan seksual dan reproduksi. Remaja seringkali memperoleh
informasi yang tidak akurat mengenai seks dari teman-teman mereka, bukan dari
petugas kesehatan, guru atau orang tua. Faktor lingkungan yang sangat
berpengaruh terhadap perilaku reproduksi remaja diantaranya adalah faktor
keluarga.
Remaja
yang melakukan hubungan seksual sebelum menikah banyak diantara berasal dari keluarga
yang bercerai atau pernah cerai, keluarga dengan banyak konflik dan perpecahan
(Kinnaird, 2003). Hubungan orang-tua yang harmonis akan menumbuhkan kehidupan
emosional yang optimal terhadap perkembangan kepribadian anak sebaliknya. Orang
tua yang sering bertengkar akan menghambat komunikasi dalam keluarga, dan anak
akan “melarikan diri“ dari keluarga. Keluarga yang tidak lengkap misalnya
karena perceraian, kematian, dan keluarga dengan keadaan ekonomi yang kurang,
dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak (Rohmahwati, 2008). Faktor-faktor
yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah pada remaja paling tinggi hubungan antara
orang tua dengan remaja, diikuti karena tekanan teman sebaya, religiusitas, dan
eksposur media pornografi (Soetjiningsih, 2006).
Beberapa
faktor lain yang mempengaruhi perilaku seksual pada remaja adalah perubahan
hormonal, penundaan usia perkawinan, penyebaran informasi melalui media massa,
tabu-larangan, norma-norma di masyarakat, serta pergaulan yang makin bebas
antara laki-laki dan perempuan (Sarwono, 2003).
3.5
Dampak Terjadinya Perilaku Seksual Remaja di Sekolah
Perilaku seksual remaja dapat menimbulkan berbagai dampak negatif
pada remaja, diantaranya sebagai berikut :
a.
Dampak psikologis
Dampak
psikologis dari perilaku seksual pranikah pada remaja diantaranya perasaan
marah, takut, cemas, depresi, rendah diri, bersalah dan berdosa.
b.
Dampak Fisiologis
Dampak
fisiologis dari perilaku seksual pranikah tersebut diantaranya dapat
menimbulkan kehamilan tidak diinginkan dan aborsi.
c.
Dampak sosial
Dampak sosial
yang timbul akibat perilaku seksual yang dilakukan sebelum saatnya antara lain
dikucilkan, putus sekolah pada remaja perempuan yang hamil, dan perubahan peran
menjadi ibu. Belum lagi tekanan dari masyarakat yang mencela dan menolak
keadaan tersebut (Sarwono, 2003).
d.
Dampak fisik
Dampak fisik
lainnya sendiri menurut Sarwono (2003) adalah berkembangnya penyakit menular
seksual di kalangan remaja, dengan frekuensi penderita penyakit menular seksual
(PMS) yang tertinggi antara usia 15-24 tahun. Infeksi penyakit menular seksual
dapat menyebabkan kemandulan dan rasa sakit kronis serta meningkatkan risiko
terkena PMS dan HIV/AIDS.
3.6
Solusi untuk Mengurangi Terjadinya Perilaku Seksual Remaja di
Sekolah
Berikut ini
adalah beberapa solisi untuk mengurangi terjadinya perilaku seksual remaja :
1.
Meningkatkan kualitas hubungan orang tua dan remaja.
Sebagai orang
tua hendaknya bersikap terbuka terhadap masalah seksual, sehinggga bisa menjadi tempat curhat bagi
anak yang membutuhkan informasi seksual.
Sikap dan perilaku orang tua juga berperan sebagai contoh atau teladan anaknya dalam menyikapi hubungan seks
pranikah.
2.
Ketrampilan menolak tekanan negatif dari teman.
Teman sebaya
atau teman bergaul mempunyai pengaruh yang besar dalam mempengaruhi sikap dan perilaku remaja. Untuk
itu remaja perlu berinisiatif dalam
melakukan penolakan terhadap ajakan teman yang mengarah ke hal yang negatif atau lebih amannya, perlu memilih
teman yang membawa pengaruh positif
dalam bergaul sehingga remaja dapat bersikap bijaksana terhadap hubungan seks pranikah.
3.
Meningkatkan relijiusitas remaja yang baik
Ajaran agama
untuk remaja sebaiknya tidak hanya dikhotbahkan akan tetapi diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang nyata
yang dikaitkan dengan dengan
masalah-masalah kontekstual dalam kehidupan remaja (misalnya
masalah kesehatan reproduksi dan
seksual). Dari kegiatan yang nyata akan membentuk sikap remaja yang bijaksana khususnya dalam
menyikapi hubungan seks pranikah.
4.
Pembatasan atau pengaturan peredaran media pornografi
Diharapkan
media member manfaat yang positif yaitu lebih menampilkan pesan- pesan
seksualitas yang mendidik, karena sebenarnya media dapat dimanfaatkan sebagai media yang ampuh dalam menyampaikan
materi pendidikan seksualitas. Dengan
informasi yang positif maka akan membawa dampak positif pula pada sikap dan perilaku remaja.
5.
Promosi tentang kasahatan seksual bagi remaja yang melibatkan peran
sekolah, pemerintah dan lembaga non pemerintah
Siswa perlu
memanfaatkan layanan bimbingan konseling yang ada dalam memberikan pendidikan seks untuk siswa.
Lembaga pemerintah ataupun lembaga non
pemerintah perlu mengadakan seminar mengenai kesehatan seksual remaja dan pendidikan seksual secara keseluruhan.
Penyampaiannya perlu dibuat secara
menarik agar siswa secara sadar diri dapat mengambil sikap terhadap
hubungan seks pranikah secara bijaksana
dengan sendirinya tanpa paksaan dari siapapun,
karena kesadaran diri dari remaja itu sendiri merupakan cara yang paling
penting dalam mencegah hubungan seks
pranikah.
6.
Bimbingan Klasikal
Bimbingan
klasikal merupakan suatu bimbingan yang digunakan untuk mencegah masalah-masalah perkembangan,
meliputi: informasi, pendidikan,
pekerjaan, personal, dan sosial dilaksanakan dalam bentuk pengajaran yang
sistematis dalam suatu ruang kalas yang
berisi antara 20-25 siswa dengan tujuan untuk
meningkatkan pemahaman diri dan orang lain serta perubahan sikap
dengan menggunakan berbagai media dan
dinamika kelompok ,Gazda (dalam
ikippgrismg.ac.id ). Bimbingan
klasikal adalah layanan bantuan bagi siswa yang berjumlah antara 30-40 orang atau satu kelas melalui kegiatan
klasikal yang disajikan secara sistematis,
bersifat prefentif dan memberikan pemahaman diri dan pemahanan tentang
orang lain yang berorientasi pada bidang
pembelajaran, pribadi, sosial dan karier dengan tujuan menyediakan informasi yang akurat dan dapat
membantu individu untuk merencanakan
pengambilan keputusan dalam hidupnya serta mengembangkan potensinya secara optimal (dalam ikippgrismg.ac.id).
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1
Kesimpulan
1.
Ada pengaruh secara signifikan antara pengetahuan terhadap perilaku
seksual remaja di sekolah.
2.
Ada pengaruh secara signifikan antara tingkat pemahaman agama (religiusitas)
terhadap perilaku seksual remaja di sekolah.
4.2
Saran
1.
Bagi Sekolah
Penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan untuk memasukkan kurikulum
kesehatan reproduksi diberikan kepada siswa-siswi melalui bimbingan konseling
yang lebih mendalam.
2.
Bagi Siswa
Siswa dapat meningkatkan pengetahuan tentang seks pranikah, pemahaman
tingkat agama, dengan mencari informasi yang baik dan salah dalam mendapatkan
informasi yang dapat mempengaruhi perilaku seks pranikah.
3.
Bagi Peneliti Lain
Karena keterbatasan peneliti maka SMA kelas 3 dapat dijadikan responden
dalam penelitian selanjutnya, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seks
pranikah pada remaja seperti teman sebaya, sosial budaya, pengendalian diri,
gaya hidup, nilai dan norma dapat diteliti oleh peneliti selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Adawiyah R. 2007. Perbedaan
Perilaku Terhadap Hubungan Seksual Pranikah Ditinjau Dari Religiusitas. http://etd.library.ums.ac.id/go.php?id=jtptumsgdl-
s1-2007-rabiatulad-5614. Diakses
pada tanggal 7 Februari 2009.
Green L.W.,Kreuter M.W., 2000. Health
Promotion Planning An educational and Environmental Approach. Maylield Publishing Company.
Hurlock, E. B. 2004. Adolescent
Development, Fourth Edition. Tokyo: Mc Graw- Hill.
Irawati dan Prihyugiarto, I. 2005.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Terhadap Perilaku Seksual Pria Nikah Pada Remaja Di Indonesia:
BKKBN.
Kinnaird. 2003. Keluarga Makin
Baik Hubungan Orangtua-Remaja Makin Rendah Perilaku Seksual Pranikah http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=186024&actmenu=45.
Diakses pada Tanggal 6 Januari
2009.
Monks F.J., Knoers A.M.P.,
Haditono S.R., 2002. Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagiannya, Edisi Keempat
Belas. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Mu’tadin Z. 2002. Pendidikan
Seksual Pada Remaja. Available at : http//:www.epsikologi. com. Diakses tanggal 26 April 2008.
Notoatmodjo S. 2003. Pendidikan
dan Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta. Jakarta: Rineka C ipta.
Rohmahwati D.A., Lutfiati, A., Sri
M., 2008.Pengaruh Pergaulan Bebas Dan Vcd Porno Terhadap Perilaku Remaja Di Masyarakat. http://kbi.gemari.or.id/beritadetail.php?id=2569
Diakses Tanggal 29 November 2008
Rumini S. dan Sundari S. 2004.
Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Sarwono W.S. 2003. Psikologi
Remaja. Jakarta: Grafindo Persada.
Santrock, J.W. 2003. Adolescence
: Perkembangan Remaja. Jakarta: Penerbit
Soetjiningsih.2006. Remaja Usia
15 - 18 Tahun Banyak Lakukan Perilaku Seksual Pranikah.http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1659.
Diakses Tanggal 6 Januari 2009.
Suryoputro A., Nicholas J.F.,
Zahroh S., 2006. Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja Di Jawa Tengah:
Implikasinya Terhadap Kebijakan Dan Layanan Kesehatan
Seksual Dan Reproduksi. Makara Kesehatan. vol.10. no.1 juni
2006: 29-40.
Syafrudin. 2008. Remaja Dan
Hubungan Seksual Pranikah http://id.shvoong.com/medicine-and- health/1799376-remaja-dan-hubungan
seksual-pranikah/ . Diakses pada tanggal 21 Januari 2009.
Stuart G.W. and Sundeen S.J. 1999.
Principles and Practice of Psychiatric Nursing. New York : Mosby Year Book, Inc.
ANGKET
I.
PENGANTAR
Untuk
mendapatkan data yang akurat dan terpercaya dalam penelitian ilmiah, penulis
membutuhkan bantuan teman-teman untuk bersedia memberikan bantuan jawaban
angket ini dengan sejujur-jujurnya, sesuai dengan keadaan teman-teman yang
sebenarnya. Jawaban yang teman-teman berikan merupakan bantuan yang sangat
berharga bagi peneliti dalam menyusun karya ilmiah.
Atas bantuan
teman-teman dalam menjawab angket ini, kami ucapkan terimakasih. Jawaban
teman-teman akan terjaga kerahasiaannya.
II.
PETUNJUK PENGISIAN
a. Bacalah pertanyaan-pertanyaan di bawah
ini dengan teliti.
b. Pilihlah satu jawaban yang sesuai dengan
keadaan teman-teman.
c. Berilah tanda silang (X) pada salah satu
huruf a, b, c, atau d yang teman-teman anggap sesuai.
III.
IDENTITAS
Nama : ……………………………
Kelas : ……………………………
IV.
PERTANYAAN-PERTANYAAN
A.
Aspek Pengetahuan
1. Apakah Anda mengetahui definisi perilaku
seksual ?
a.
Ya c.
Tidak terlalu
b.
Sedikit d.
Tidak sama sekali
2.
Apakah
Anda mengetahui contoh-contoh perilaku seksual remaja di sekolah ?
a.
Ya c.
Tidak terlalu
b.
Sedikit d.
Tidak sama sekali
3.
Menurut
Anda, apakah pacaran termasuk contoh perilaku seksual remaja di sekolah ?
a.
Ya c.
Tidak terlalu
b.
Sedikit d.
Tidak sama sekali
4.
Apakah
Anda mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku seksual
remaja di sekolah ?
a.
Ya
c.
Tidak terlalu
b.
Sedikit d.
Tidak sama sekali
5.
Apakah
Anda mengetahui dampak perilaku seksual remaja di sekolah ?
a.
Ya c.
Tidak terlalu
b.
Sedikit d.
Tidak sama sekali
6.
Apakah
Anda pernah melihat perilaku seksual remaja di sekolah Anda sendiri ?
a.
Ya,
sering c.
Tidak terlalu, jarang
b.
Sedikit,
pernah d.
Tidak sama sekali, tidak pernah
7.
Sebagai
seorang siswa, apakah Anda mengetahui cara untuk mencegah perilaku seksual di sekolah pada diri Anda sendiri ?
a.
Ya c.
Tidak terlalu
b.
Sedikit d.
Tidak sama sekali
B. Aspek
Pemahaman Agama dan Sikap
8.
Menurut
Anda, apakah perilaku seksual remaja di sekolah sama dengan berbuat zina ?
a.
Ya c.
Tidak terlalu
b.
Sedikit d.
Tidak sama sekali
9.
Apakah
agama Islam secara khusus melarang pengikutnya untuk melakukan perbuatan zina ?
a.
Ya c.
Tidak terlalu
b.
Sedikit d.
Tidak sama sekali
10.
Apakah
Anda percaya, bahwa Allah Maha Melihat lagi Maha Mengetahui ?
a.
Ya c.
Tidak terlalu
b.
Sedikit d.
Tidak sama sekali
11.
Apabila
Anda menjumpai remaja yang melakukan perilaku seksual di sekolah, apakah Anda
akan menegur remaja tersebut ?
a.
Ya c.
Tidak terlalu
b.
Sedikit d.
Tidak sama sekali
12.
Apakah
Anda setuju dengan semakin banyaknya siswa yang melakukan perilaku seksual di
sekolah ?
a.
Ya c.
Tidak terlalu
b.
Sedikit,
kurang d.
Tidak sama sekali
“Terima kasih atas partisipasi Anda”
Hasil Jawaban Responden Tentang Hubungan Pengetahuan dengan Sikap Siswa-Siswi Kelas XI Tentang
Perilaku Seksual Remaja di Sekolah
Untuk memperoleh data tentang hubungan pengetahuan dengan sikap siswa-siswi kelas XI tentang
perilaku seksual remaja di sekolah menggunakan metode
questioner (angket) dengan cara disebarkan kepada siswa sebanyak 34. Dalam
angket tersebut terdiri dari 12 item pertanyaan yang berbentuk multiple choice
(pilihan ganda). Berikut akan dipaparkan hasil data tentang tentang hubungan
pengetahuan dengan sikap siswa-siswi kelas xi tentang perilaku seksual remaja
di sekolah.
|
No
|
Item Pertanyaan
|
|||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
|
|
1
|
A
|
A
|
A
|
B
|
C
|
D
|
A
|
C
|
A
|
A
|
D
|
D
|
|
2
|
B
|
B
|
A
|
B
|
B
|
A
|
A
|
C
|
A
|
A
|
D
|
D
|
|
3
|
A
|
A
|
B
|
C
|
B
|
D
|
B
|
C
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
4
|
B
|
A
|
B
|
B
|
B
|
C
|
A
|
B
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
5
|
B
|
B
|
C
|
B
|
B
|
C
|
-
|
B
|
B
|
A
|
A
|
D
|
|
6
|
B
|
B
|
C
|
B
|
B
|
C
|
B
|
B
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
7
|
B
|
B
|
B
|
C
|
B
|
D
|
A
|
B
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
8
|
B
|
B
|
C
|
B
|
B
|
C
|
A
|
B
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
9
|
B
|
C
|
A
|
B
|
A
|
D
|
A
|
A
|
A
|
A
|
D
|
D
|
|
10
|
C
|
B
|
C
|
B
|
A
|
A
|
A
|
A
|
A
|
A
|
B
|
D
|
|
11
|
B
|
B
|
B
|
D
|
C
|
C
|
B
|
A
|
A
|
A
|
B
|
D
|
|
12
|
B
|
-
|
A
|
B
|
B
|
D
|
B
|
A
|
A
|
A
|
D
|
D
|
|
13
|
B
|
A
|
B
|
C
|
C
|
B
|
B
|
A
|
A
|
A
|
B
|
D
|
|
14
|
C
|
A
|
B
|
B
|
C
|
B
|
A
|
A
|
A
|
A
|
C
|
D
|
|
15
|
C
|
B
|
B
|
B
|
A
|
A
|
A
|
A
|
A
|
A
|
B
|
D
|
|
16
|
C
|
B
|
A
|
A
|
A
|
C
|
B
|
A
|
A
|
A
|
B
|
D
|
|
17
|
C
|
B
|
B
|
B
|
A
|
A
|
A
|
A
|
A
|
A
|
B
|
D
|
|
18
|
C
|
A
|
B
|
B
|
B
|
B
|
A
|
A
|
A
|
A
|
C
|
D
|
|
19
|
B
|
B
|
B
|
A
|
B
|
C
|
A
|
A
|
A
|
A
|
B
|
D
|
|
20
|
A
|
B
|
B
|
C
|
A
|
D
|
A
|
A
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
21
|
A
|
B
|
B
|
C
|
A
|
D
|
A
|
A
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
22
|
B
|
B
|
B
|
A
|
B
|
B
|
A
|
A
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
23
|
C
|
B
|
C
|
B
|
A
|
A
|
B
|
A
|
A
|
A
|
B
|
D
|
|
24
|
B
|
B
|
B
|
C
|
B
|
C
|
A
|
A
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
25
|
B
|
C
|
D
|
C
|
B
|
D
|
A
|
A
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
26
|
B
|
C
|
B
|
D
|
C
|
C
|
A
|
A
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
27
|
C
|
C
|
B
|
C
|
C
|
D
|
A
|
A
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
28
|
C
|
A
|
B
|
A
|
B
|
B
|
B
|
A
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
29
|
B
|
B
|
B
|
C
|
B
|
B
|
C
|
A
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
30
|
C
|
C
|
A
|
B
|
C
|
B
|
C
|
A
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
31
|
C
|
C
|
A
|
C
|
B
|
B
|
C
|
A
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
32
|
B
|
C
|
D
|
C
|
B
|
D
|
B
|
A
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
33
|
A
|
B
|
C
|
A
|
A
|
D
|
A
|
A
|
A
|
A
|
A
|
D
|
|
34
|
B
|
B
|
B
|
B
|
B
|
C
|
A
|
A
|
A
|
A
|
A
|
D
|
Komentar
Posting Komentar